Apakah Penyakit ‘Ain Sama dengan Sihir atau Guna-Guna?

Pertanyaan: Bismillah,
Apakah sama penyakit ‘ain dengan sihir atau guna-guna
Mohon penjelasannya

Jawaban singkat:

Penyakit ‘ain tidak sama dengan sihir (guna-guna), meskipun keduanya sama-sama dapat menjadi sebab seseorang tertimpa gangguan dengan izin Allah Ta’ala. Keduanya berbeda dari sisi hakikat, sebab, dan pelakunya.

  1. Apa itu penyakit ’ain?

’Ain (العين) adalah gangguan yang terjadi karena pandangan seseorang yang disertai rasa kagum, hasad, atau jiwa yang buruk, sehingga memberikan pengaruh buruk kepada orang yang dipandang dengan izin Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْعَيْنُ حَقٌّ

“’Ain itu benar adanya.”

(HR. Al-Bukhari no. 5740 dan Muslim no. 2187)

Beliau ﷺ juga bersabda:

لَوْ كَانَ شَيْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ لَسَبَقَتْهُ الْعَيْنُ

“Seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului takdir, niscaya ’ain-lah yang akan mendahuluinya.”

(HR. Muslim no. 2188)

Penyebab ’ain

  • Pandangan yang disertai kekaguman tanpa mendoakan keberkahan.
  • Hasad atau iri dengki.
  • Bisa terjadi tanpa sengaja, meskipun orang yang memandang tidak berniat mencelakakan.

Karena itu Nabi ﷺ mengajarkan agar ketika melihat sesuatu yang mengagumkan mengucapkan doa keberkahan, seperti:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُ

atau

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ

Dalam riwayat tentang Sahl bin Hunaif, Nabi ﷺ bersabda:

أَلَا بَرَّكْتَ؟

“Mengapa engkau tidak mendoakan keberkahan?”

(HR. Ahmad no. 15550, Malik dalam Al-Muwaththa’, disahihkan oleh Al-Albani)

  1. Apa itu sihir (guna-guna)?

Sihir (السحر) adalah amalan yang dilakukan oleh tukang sihir dengan bantuan setan melalui mantra, jampi-jampi, ritual, atau bentuk kekufuran lainnya untuk mencelakakan orang lain.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

“Sulaiman tidak kafir, tetapi setan-setan itulah yang kafir; mereka mengajarkan sihir kepada manusia.”

(QS. Al-Baqarah: 102)

Nabi ﷺ bersabda:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ… الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ…

“Jauhilah tujuh dosa besar yang membinasakan… yaitu syirik kepada Allah dan sihir…”

(HR. Al-Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89)

  1. Perbedaan antara ’ain dan sihir

Sihir (Guna-guna)
Terjadi karena pandangan yang disertai hasad atau kekaguman Terjadi karena amalan sihir dengan bantuan setan
Bisa terjadi tanpa sengaja Dilakukan dengan sengaja
Tidak memerlukan ritual Biasanya menggunakan mantra, jampi, atau ritual syirik
Bisa berasal dari orang saleh maupun orang fasik jika tidak menjaga lisannya dan doanya Dilakukan oleh tukang sihir atau orang yang bekerja sama dengan setan
Hukumnya bukan dosa jika terjadi tanpa sengaja, namun tetap diperintahkan mendoakan keberkahan. Sihir termasuk dosa besar, bahkan dapat mengantarkan kepada kekufuran

  1. Persamaannya

Keduanya memiliki beberapa persamaan:

  • Sama-sama benar adanya menurut syariat.
  • Sama-sama hanya terjadi dengan izin Allah Ta’ala.

Allah berfirman:

وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Mereka tidak dapat mencelakakan seorang pun dengan sihir itu kecuali dengan izin Allah.”

(QS. Al-Baqarah: 102)

Demikian pula ’ain tidak akan mengenai seseorang kecuali dengan takdir Allah.

  1. Bagaimana cara mengobatinya?

Baik gangguan ’ain maupun sihir diobati dengan cara-cara yang disyariatkan, di antaranya:

  • Ruqyah syar’iyyah dengan Al-Qur’an dan doa-doa Nabi ﷺ.
  • Membaca Al-Fatihah.
  • Membaca Ayat Kursi.
  • Membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.
  • Memperbanyak dzikir pagi dan petang.
  • Bertawakal kepada Allah.
  • Khusus untuk ’ain, apabila pelakunya diketahui, dianjurkan memintanya berwudu, kemudian air bekas wudunya disiramkan kepada orang yang terkena ’ain, sebagaimana tuntunan Nabi ﷺ (HR. Ahmad, Abu Dawud; disahihkan oleh para ulama).

Kesimpulan

  • ’Ain dan sihir bukanlah hal yang sama.
  • ’Ain berasal dari pengaruh pandangan yang disertai hasad atau kekaguman dan bisa terjadi tanpa sengaja.
  • Sihir adalah perbuatan yang dilakukan dengan sengaja melalui bantuan setan dan termasuk dosa besar bahkan dapat menjadi kekufuran.
  • Keduanya benar adanya menurut syariat dan diobati dengan ruqyah syar’iyyah serta memperbanyak dzikir dan tawakal kepada Allah.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Rujukan:

  • QS. Al-Baqarah: 102.
  • HR. Al-Bukhari no. 5740, 2766.
  • HR. Muslim no. 89, 2187, 2188.
  • Imam An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim.
  • Ibnu Hajar Al-’Asqalani, Fathul Bari (penjelasan Kitab Ath-Thibb).
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Syarh Riyadhus Shalihin dan Majmu’ Fatawa wa Rasail.
  • Syaikh Shalih Al-Fauzan, Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi dan penjelasan beliau tentang ruqyah syar’iyyah.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top